Budaya mencela atau menyilet tumbuh dengan subur bak jamur di musim hujan di Indonesia. Mencela atau mencari cela yang bisa di cela sudah mewabah ke semua tingakatan, golongan, bahkan para elit politik pun tidah henti-hentinya saling mencela. Dan tanpa kita sadari mencela sudah menjadi gaya hidup. Sepertinya kita tidak pernah paham akan arti kata nobody perfect, tidak ada sesuatupun yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik-NYA semata.
Biasanya yang di celapun bermacam-macam obyeknya. Tergantung situasi, kondisi, dan lokasi. Tapi dalam dunia pergaulan yang sering adalah dari penampilan, yang kalau di jabarkan bisa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bisa juga bentuk fisik, cara jalan, posisi berdiri, bahkan detail-detail yang tidak terpikirkan sama kita, bisa jadi bahan celaan. Dan buat mereka yang gak kuat mental dengan celaan, bisa bisa jadi punya krisis PD, bahkan sakit jiwa. Dan kalau kita marah dengan temen yang mencela, mereka selalu berdalih kalau mereka cuma bercanda. Sungguh cara bercanda yang nggak wajar dan jahat. Meskipun jujur aku dulu sering juga melakukanya. …. He he he he tapi dulu aku mencela karena aku di cela duluan …..tetep membela diri, wajib hukumnya.
Ide untuk menulis tentang kebiasaan mencela ini datang karena aku baru ketemu temen lama dari Indonesia . Pas jalan-jalan di Mall seperti biasanya kalau weekend, tanpa ba bi bu tiba-tiba nongol di depanku, nggak cuma 1 tapi 2 sekaligus sosok yang sangat akrab dan aku kenal. Mereka pun kaget, dengan pertemuan yang tak terduga itu, tapi kata-kata pertama yang keluar dari mulut mereka adalah ……. Ya ampun peruuuuuuut tuuuuuhhhhh !!! .…..dengan cepat aku bilang ….I am fine, Thank you …… Emang sih perutku sekarang gendut, cuma masak iya sih ketemu temen lama, kayak begitu sambutanya. Dah gitu mereka memperhatikan apa yang aku pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bener-bener sudah kayak fashion police aja ……
Aku nggak kaget sih. Soalnya lingkungan pergaulanku di Jakarta sudah menjadikan kebiasaan mencela sebagai menu utama, setiap kita ketemuan. Maunya sih buat lucu-lucuan aja. Cuma kadang-kadang suka kelewatan. Dan pertemananpun bisa jadi permusuhan gara gara saling cela. Tak jarang kita mencela orang yang lalu lalang di depan kita, yang bahkan kita nggak tahu dan nggak kenal siapa mereka. Pernah kita lagi ngopy rame-rame, tiba-tiba ada temen nyeletuk …. Happy valentine !!! Kita langsung tanggap dan tengok kiri kanan, ternyata ada yang lewat pake baju pink dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kita langsung Geeeeeeeeeeerrrrrrrrr ….. tanpa memperdulikan Ms. Pinky yang merah mukanya, salah tingkah dan malu. Dan temenkupun puas telah berhasil mencela dengan sukses. Dan temen-temen yang lain panas, pengen mencari mangsa juga buat di cela.
Tapi itu dulu lho waktu aku masih di Jakarta , yang lingkungan pergaulanku emang suka cela-celaan. Sudah lama banget aku nggak mencela. Selain sadar kalau itu bukan kebiasaan yang baik, mungkin juga karena faktor lingkungan pergaulan. Karena ternyata di Thailand tidak aku temui budaya mencela. Jadi tidak heran kalau gaya orang-orang di Thailand lebih trendy dan berani. Dibandingkan dengan gaya orang-orang Indonesia yang teramat basic dan sophisticated. Bahkan kaum waria bisa kita jumpai di mana-mana baik siang maupun malam. Coba ada waria jalan di Mall di Indonesia, bukanya sudah jadi bahan omongan dan di cela habis-habisan tuh.
Contoh-contoh di atas baru sebagian, masih banyak modus operandi yang lain. Bahkan yang di lingkungan kerja, sering aku jumpai temen yang dengan terang-terangan mencela temenya di depan atasan, yang ini jelas kalau modusnya persaingan jabatan. Dan tentunya masih banyak modus-modus yang lain, you name it !. Kadang-kadang aku mikir, untungnya apa siy mencela orang itu ? Kok orang pada hoby banget mencela orang. Why don’t you mind your own business ? Emangnya salah pakai baju pink ? Emangnya kenapa kalau aku gendut ? Emangnya kenapa kalau aku item ? Emangnya kenapa kalau pake dompet LV kw 1,2 atau 3 ? So what gitu lho ! So …. stop mencela, start revolusi …..Please !!!
No comments:
Post a Comment