Saat ini lagi gencar dikampanyekan untuk melawan pemanasan global. Dan salah satu kampanyenya adalah dengan menghimbau untuk bersepeda ke kantor atau ke tempat kerja. Jauh sebelum kampanye ini di gembar-gemborkan di Yogya tradisi bersepeda sudah ada dari jaman dahulu, tak heran Yogya juga terkenal sebagai kota sepeda. Meskipun saat ini pemakainya sudah jauh menurun, tapi setiap harinya masih bisa anda saksikan barisan orang bersepeda yang ber kilo-kilo meter panjangnya. Pemandangan ini bisa anda jumpai disetiap hari kerja, salah satunya di Jalan Raya Bantul & Jalan Parang Tritis. Buat anda yang tinggal di Yogyakarta bagian selatan pasti sering menjumpai pemandangan ini.
Jadul …. sedari kecil aku suka sekali bersepeda. Semakin jauh aku pergi bersepeda semakin puas rasanya. Lulus SMP karena tidak di terima di SMA Negeri, aku pun mendaftar ke sekolah swasta yang cukup populer di Yogyakarta . Dan jarang sekali di antara murid-muridnya yang naik sepeda ke sekolah seperti aku. Dan aku hitung-hitung di tempat parkir, hanya ada beberapa murid saja yang pake sepeda, yang lainya pakai sepeda bermotor & mobil. Tapi aku tetep aja cuek bersepeda, meskipun murid yang lainya kadang suka mengejeku. Saat itu aku nggak punya perasaan minder ataupun malu, aku pikir kenapa juga malu. Orang pakai sepeda punya sendiri, kecuali kalau sepedanya bagus tapi minjem punya orang, atau hasil curian baru deh malu ….he he he.
Sampai pada suatu saat aku naksir cewek sekelasku. Dan pada satu hari minggu, dengan PD nya aku pun datang main ke rumahnya, dengan maksud ingin mengajak dia jalan-jalan. Saat itu dia menolak untuk pergi denganku, karena aku naik sepeda, dengan alasan panas. Tapi orang tua dia memaksanya untuk ikut denganku. Akhirnya dengan muka cemberut diapun ikut pergi dengan sepedaku. Hatikupun berbunga ….aku merasa hari itu merupakan hari yang terindah dalam hidupku. Meskipun aku yakin tidak demikian dengan dirinya.
Di sepanjang perjalanan dia tidak mau bicara, meskipun aku mengajaknya bercanda. Sampai-sampai aku pun kehilangan akal, dan berusaha memutar otak untuk membuatnya sedikit berbicara atau tertawa. Tapi semuanya nggak mempan juga. Sampai pada suatu saat aku merasakan sesuatu dengan sepedaku diapun memegang pinggangku, jantungkupun sedikit berdebar dan ….Geddduubbbbbraaaak….sepedaku ambruk, porok nya patah dan kita pun terjatuh. Dia menangis sesenggukan, meskpipun tidak terluka sedikitpun. Duuuuuhhhh ….. saat itu baru deh aku bener-bener malu dengan sepedaku. Akhirnya aku titipkan sepedaku di warung rokok, aku pun mengantar dia dengan becak kerumahnya. Sepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya meminta maaf padanya, tapi dia malah tak henti-hentinya menangis sambil menyalahkanku.
No comments:
Post a Comment